Silsilah Mufassirin

Download Artikel Klik disini

SILSILAH MUFASSIRIN

Al Imam  Muhammad bin Ahmad al Qurthubi (wafat: 671 hijrah)

Tafsir : Al jami’ Li Ahkam al Quran

 

Penurunan al-Qur’an kepada nabi akhir zaman bertujuan antaranya sebagai  petunujuk, penjelas serta pedoman kehidupan manusia, khusunya terhadap hal-hal yang terkait dengan ibadah harian yang mendekatkan diri seorang muslim dengan Tuhannya. Namun begitu, penurunan al-Quran penurunannya di dalam bahasa arab sedikit penyukarkan pembacanya yang bukan dari kalangan orang arab, ditambah lagi terdapat beberapa ayat di dalam al-Quran yang dinyatakan oleh Allah SWT sendiri sebagi ayat mutasyabihat atau ayat yang masih samar-samar maksud dan artinya. Maka dari itu, umat islam memerlukan tafsiran yang khusus berkaitan dengan ayat tersebut yang mana penafsiran tersebut haruslah bersumberkan dari Nabi Sallallahu ‘alaihi Wasallam, para sahabat baginda serta para ilmuan islam yang memiliki kemahiran yang Allah SWT kurniakan kepada mereka dalam menafsirkan ayat al-Quran.

Imam al-Qurthubi, atau nama penuhnya ialah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Anshari al-Khazrijiy al-Andalusi al-Qurthubi, yang wafat pada tahun 671 hijrah[1] salah seorang ulama tafsir pada abad tujuh yang telah menghasilkan sebuah karya berupa kitab tafsir yang mengumpulkan penjelasan berkaitan hukum hakam yang terdapat di dalam ayat al-Quran. Tidak seperti kitab tafsir sebelumnya, seperti tafsir al-Tabari misalnya, yang cenderung menafsirkan ayat al-Quran dengan membawakan riwayat-riwayat yang banyak yang terkandung di dalamnya cerita-cerita umat terdahulu, pengertian bagi kalimat yang sulit di fahami dan yang seumpamanya, akan tetapi beliau rahimahullah al-Tabari tidak mengfokuskan perbahasan hukum hakam di dalam kitab tafsirnya.

Selain mengeluarkan hukum hakam yang terkait dengan ibadah, imam al-Qurthubi juga memasukkan di dalam kitabnya perbahsan berkaitan dengan qiraat al-Quran, asbab al-nuzul ayat, i’rab ayat, permasalahan ilmu nahu, balaghah, al-nasikh dan al-mansukh serta pandangan ulama salaf al-salih dalam menafsirkan beberapa ayat atau kalimat di dalam al-Quran.[2] Melihat dari hasil karya imam al-Qurthubi ini, banyak ulama yang menganggap bahawa kitab tafsir al-Qurthubi merupakan kitab yang sangat sempurna dalam membicarakan permasalaha hukum hakam fikih yang terkandung di dalam al-Quran.

Biografi pengarang tafsir

Nama beliau ialah Abu Abdullah, Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Anshari al-Khazrijiy al-Andalusi al-Qurthubi. Beliau terkenal dikalangan masyarakat sebagai seorang yang soleh, seorang ulama yang berpengetahuan luas, tidak mengejar kemewahan dunia, sibuk dengan mengejar hal-hal yang berkaitan dengan akhirat dan belaiu terkenal dengan cirinya yang hanya memakai selembar pakaian dan kopiah di atas kepalanya dan beliau rahimahullah banyak menghabiskan sebagian waktu beliau untuk beribadah kepada Allah SWT dan sebagian yang lain untuk berkarya sehingga beliau banyak menghasilkan hasil karya yang masih dimanfaatkan oleh umat pada ketika ini.[3]

Antara karya al-imam al-Qurthubi ialah tafsir al-Jami’ Li Ahkam al-Quran yang akan kita bahaskan dalam perbahasan kali ini, Syarh al-Asma’ al-Husna yaitu uraian tentang nama-nama bagi Allah, al-Tazkirah Fi Afdhal al-Azkar, al-Tazkirah Fi Umur al-Akhirah yang berisikan nasihat-nasihat perihal persiapan manusia menuju kehidupan akhirat,[4] dan lain-lain karya beliau yang hingga kini masih dipelajari, dikaji dan dimanfaatkan oleh umat islam. Beliau terkenal dengan seorang yang memiliki pandangan yang sangat luas dalam setiap penulisannya, sehinggakan seorang ulama Ibn Farrahun[5] memuji salah satu hasil kayra al-Quthubi dengan mengatakan “Aku tidak menemukan seorang yang mampu menghasilkan karya sebaik beliau dalam membahaskan suatu pemasalahan dan beliau seorang yang memiliki hasil karya yang banyak yang dapat di manfaatkan oleh umat”. Al-Quthubi wafat pada bulan Syawal tahun 671 hijriyah betepatan dengan tahun 1273 masehi.[6]

Latar belakang penulisan tafsir al-Qurthubi

Latar belakang penulisan tafsir ini telah dijelaskan sendiri oleh al-Qurthubi dalam kata pengantar tasfirnya, bahwa menurutnya al-Quran ini merupakan kitab Allah yang mengumpulkan semua hal-hal yang berkaitan dengan hukum hakam syariat yang telah diturunkan oleh Allah dari langit tertinggi turun ke bumi sehinggakan beliau telah menghabiskan sebagain umurnya untuk menghasilkan kitab tafsir ini. Selain itu, hal terpenting yang memotivasi al-Qurthubi dalam menghasilkan karyanya ialah keinginan beliau supaya orang yang membaca karyanya mampu membaca al-Quran dengan baik dengan memahami maknanya secara mendalam, mengambil pengajaran dari setiap ayat, membacanya dengan pelbagai bentuk-bentuk bacaan (qiraat) yang diturunkan oleh Allah, mengetahui keajaiban dari setiap ayat serta mengetahui arti dari setiap kalimat didalamnya.

Mendasari dari keinginan tersebut, maka al-Qurthubi berusaha menguraikan segala keajaiban yang terdapat di dalam al-Quran terutama dari segi hukum hakam syariat di dalamnya. Antaranya usaha yang dilakukan oleh beliau ialah dengan menjelaskan tafsir bagi suatu ayat, penjelasan ayat dari sudut bahasa arab, I’rab atau tata bahasanya, menjelaskan beberapa bentuk bacaan atau qiraat bagi ayat tersebut, diikuti dengan bantahan terhadap pandangan-pandangan yang menyeleweng jika didapati bagi ayat tersebut selain beliau juga memasukkan hadith-hadith nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penguat dalam perbahasan berkaitan hukum serta asbab nuzul ayat. Beliau juga menyertakan pandangan dari ulama-ulama terdahulu seperti imam-imam mazhab serta generasi setelah mereka dalam menjelaskan permasalahan yang berkaitan dengan hukum dan lain-lain.

Begitulah tafsir al-Qurthubi yang dikenali dengan nama al-Jami’ Li Ahkam al-Quran atau tafsir al-Qurthubi. Namun nama lengkap kitab tafsir beliau seperti yang diberikan oleh al-Qurthubi sendiri ialah al-Jami’ Li Ahkam al-Quran Wa al-Mubayyin Lima Tadhammanuhu Min al-Sunnati Wa Aayi al-Furqan.[7]

Metode penulisan, bentuk dan corak

Kitab al-Jami’ Li Ahkam al-Quran tergolong dalam kitab tafsir Bil Ra’yi, yaitu penafsiran ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadith nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam atau penafsiran dengan perkataan para sahabat Ridhwanullahi ‘Alaihim. Adapun metode penulisan al-imam al-Qurthubi dalam penulisan tafsirnya, seperti yang disimpulkan oleh ulama dan pengkaji tafsir beliau, bisa dibagi menjadi beberapa bagian. Dalam menjelaskan motode penulisan al-Qurthubi ini, penulis akan cuba menerangkan metode al-Qurthubi berdasarkan tafsir ayat 102 surah An-Nisa’ yang membicarakan masalah solat khouf yang uraikan dalam 11 pembahasan. Antara metode al-Qurthubi yang penulis temukan dalam ayat tersebut ialah :

  1. Tafsir ayat

Ketika ingin mengurai secara panjang lebar terkait suatu ayat hukum, al-Qurthubi terlebih dahulu akan memberikan penafsiran bagi beberapa kalimat yang terdapat di dalam ayat tersebut dengan membawakan pandangan sahabat, tabi’in atau hadith nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai bentuk ciri-ciri tafsir bil ma’thur.

Misalnya dalam permasalahan ayat surah An-Nisa’ tersebut, pada kalimat فلتقم طائفة منهم معك . Al-Qurthubi menyebutkan tafsirannya ialah sebagian dari kelompok tentara tersebut harus mengikuti nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengerjakan solat. Dalam tafsiran berikutnya dijelaskan, ketika dalam solat tersebut para jama’ah solat diperbolehkan membawa senjata bersama mereka sebagai bentuk kesiagaan mereka.

 

  1. Penjelasan arti kalimat dari sudut bahasa arab serta memberikan pengertiannya menurut sastra arab.

Imam al-Qurthubi terkadang memetik beberapa puisi arab dalam menjelaskan perkataan berkaitan suatu kaliamat supaya lebih mudah difahami arti perkataan tersebut. Seperti yang petikan puisi yang dihidangkan oleh al-Qurthubi dalam menerangkan perkatan السلاح yang terdapat di dalam ayat. Beliau memuatkan puisi karangan ‘Antarah[8] yang menyebutkan ;

كسوت الجعدَ جعدَ بني أبانٍ     سلاحي بعد عريٍ وافتضاحي

Artinya :

Al-Qurthubi menambahkan, yang di maksudkan dengan perkataan السلاح disini ialah alat yang dipergunakan oleh seseorang dalam peperangan.

Setelah memberikan maksud perkataan السلاح tersebut, al-Qurthubi menyambung argumentasinya berkaitan dengan permasalahan membawa senjata ketika sedang solat. Beliau turut membawa beberpa argument dari beberapa orang ulama seperti al-Zujaj yang mengatakan ;

“Yang dimaksudkan didalam ayat tersebut ialah hendaklah sebagian dari kalangan orang yang solat dalam peperangan tersebut mengusung senjata mereka ketika solat”

 

  1. Menerangkan struktur bahasa arab (i’rab) pada kalimat

Antara keunikan tafsir al-Qurthubi ialah al-Qurthubi akan menyatakan beberapa pandangan yang berkaitan dengan ilmu nahu yang terdapat didalam ayat. Seperti contoh pada kalimat فلتقم  dan فليكونوا  al-Qurthubi menjelaskan terdapat beberapa pandangan berkaitan huruf lam pada kalimat tersebut. Antaranya pendapat al-Akhfasy, al-Farra’ dan al-Kisa’ie yang mengatakan bahwa lam didalam ayat merupakan lam ‘amr, lam kai dan lam pengingkaran. Al-Qurthubi menambahkan, pendapat tersebut bertentangan dengan pendapat Sibawaih yang mengatakan lam tersebut merupakan pembeda antara lam jar dan lam penguat.

 

  1. Penjelasan berkiatan qiraat

Dalam menerangkan qiraat atau bentuk bacaan dalam suatu perkataan, al-Qurthubi melakukan beberapa hal didalamnya, antaranya :

  1. Menyebutkan bentuk-bentuk qiraat yang terdapat bagi perkataan atau kalimat di dalam al-Quran.
  2. Menyebutkan imam qiraat yang meriwayatkan bacaan pada ayat tersebut.
  • Menjelaskan derajat bacaannya apakah diterima oleh ulama atau bacaan tersebut merupakan qiraat syaz dan sebagainya.
  1. Mengaitkan permasalahan fikih pada bacaan tersebut sekiranya dibaca dengan gaya bacaan yang berbeda-beda.

Namun pada ayat 102 surah An-Nisa’ ini, penulis tidak menjumpai terdapat perbedaan bacaan qiraat yang dijelaskan oleh imam al-Qurthubi.

 

  1. Menyertakan hadith nabawi serta memberikan penekanan terhadap setatus kesahihan hadith tersebut serta menjelaskan sekiranya berlaku percanggahan antara riwayat

Dalam menafsirkan ayat hukum, al-Qurthubi akan membawakan hadith nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam guna memperjelas perbahasan permasalahan tersebut. Al-Qurthubi akan memuat beberapa hadith yang berkaitan dengan pemasalahan dan setelah itu menyebutkan perawi hadith tersebut beserta derajatnya. Sekiranya al-Qurthubi mendapati bahwa hadith tersebut tidak bias digunakan sebagai hujjah karena kelemahannya atau terdapat kecacactan pada riwata hadith, maka beliau akan menjelaskan bahwa hadith tersebut tertolak berdasarkan pandangan ulama hadith.

Selain itu, sekiranya terdapat percanggahan didalam riwayat, misalnya terdapat perselisihan hukum antara dua hadith, maka al-Qurthubi akan menjelaskan perselisihan tersebut. Seperti yang ditemukan didalam perbahasan jumlah rakaat didalam solat khouf, apakah dilakukan dengan mengerjakan empat rakaat dengan dua salam secara terpisah atau dilakukannya dengan mengerjakan empat rakaat dengan satu salam. Namun dalm hal ini, al-Qurthubi tidak menyatakan pendapat mana yang paling kuat, tapi sekadar menengahi dua hadith yang tersebut dengan mengatakan kemungkinan kedua-dua cara tersebut pernah dilakukan oleh nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

 

  1. Menjelaskan asbabunnuzul atau sebab turunnya ayat

Dalam hal ini, al-Qurthubi mengikuti metode yang digunakan oleh para mufassirin sebelumnya, yaitu dengan menjelaskan sebab turunnya ayat. Dalam ayat 102 surah An-Nisa’ ini, beliau menjelaskan sebab turunnya ayat ialah ketika para sahabat bersama dengan nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berada dalam satu medan peperangan menentang kaum musyrikin di ‘Asfan yang berada 36 mil dari kota Makkah. Ketika masuk waktu solat zuhur, para sahabat lantas mendirikan solat dalam keadaan membelakangi kiblat, ini dikarnakan musuh yang ketika itu di pimpin oleh Khalid bin al-Walid datang dari arah tempat mereka sujud. Maka turunlah ayat ini menjelaskan tata cara pelaksanaan solat khouf.

 

  1. Pembahasan permasalahan hukum berdasarkan dalil dan tidak fanatik terhadap mazhab yang dianutinya namun beliau tetap mengutamakan pandangan Maliki.

Imam la-Qurthubi terkenal sebagai seorang penganut mazhab Maliki yang akut, sehinggakan setiap permasalahan hukum hakam didalam tafsirnya, pasti akan disertakan pandangan dari mazhab Maliki, dalil-dalil yang digunakan oleh mazhabnya serta pandangan-pandangan ulama mazhabnya berkaitan dengan suatu permasalahan. Namun begitu, imam al-Qurthubi tidak fanatik terhadap mazhabnya dan beliau penguatkan suatu pandangan berdasarkan kekuatan dalil.

 

2.4 Karakteristik tafsir al-Jami’

Antara ciri-ciri yang bias ditemukan di dalam kitab tafsir al-Qurthubi ialah :

  1. Menyertakan sandaran bagi setiap pandangan yang dibawa oleh al-Qurthubi dalam penafsirannya seperti menjelaskan setiap pemilik pandangan dari kalangan ulama, tabiin dan sahabat serta menyebutkan riwayat hadith yang dibawa olehnya.

Misalnya ketika menjelaskan perbedaan pendapat terkait apakah harus diulangi kembali solat yang dilakukan dengan tata cara solat khouf yang dikerjakan dalam peperangan sekiranya perang tidak jadi berlaku? Al-Qurthubi menjelaskan permaslahan ini dengan menyebutkan “menurut Abu Hanifah[9] solat khouf tersebut harus diulangi dengan tata cara seperti tata cara solat yang biasa dilakukan. Adapun pendapat imam al-Syafi’I[10] solat tersebut tidak perlu diulangi kembali dengan tata cara solat yang biasa dilakukan.”

  1. Tidak memasukkan cerita-cerita yang terkandung didalam ayat dan cerita-cerita umat terdahulu kecuali sekiranya al-Qurthubi melihat bahwa penceritaan tersebut sangat di perlukan untun menjelaskan lebih terperinci terkait dengan tafsir ayat. Namun hal tersebut sangat jaranga dilakukan olehnya.
  2. Menjelaskan hukum hakam yang terdpat di dalam ayat denagn menguraikan secara terperinci pembahasan berkaitan permasalahn tersebut.
  3. Sekiranya tidak ditemukan hukum hakam dari suatu ayat, maka beliau hany akan menyebutkan penafsiran ayat tersebut beserta takwilan beliau terhadapnya.
  4. Mementingkan pebahasan permasalahan fikih dengan menyebutkan beberapa kaidah usul fikih dalam merungkai permasalahan.

KESIMPULAN

Kesimpulan

Antara kesimpulan yang bias diambil dalam merumuskan metode imam al-Qurthubi dalam penulisan tafsir beliau adalah seperti berikut :

  1. Kitab tafsir al-Qurthubi merupakan kitab tafsir yang secara umumnya memfokuskan pembahasan yang berkaitan dengan hukum hakam syariat dengan mendatangkan tafsiran ayat berdasarkan pemahaman para sahabat, tabi’in dan para ulama sebelumnya.
  2. Imam al-Qurthubi merupakan salah seorang yang menganuti mazhab Maliki dan merupakan salah seorang imam besar dalam mazhab tersebut. Namun hal tersebut tidak membuatkan beliau lantas meninggalkan pendapat dari mazhab lain dalam pembahasan terkait hukum syariat.
  3. Antara ciri-ciri yang menonjol dari tafsir al-Qurthubi ialah al-Qurthubi akan membahagi pembahasan hukum menjadi beberapa bagian, kemudian disetiap bagiannya akan dibahas berkaitan dengan tafsir ayat, asbabunnuzul ayat, qiraat, perbahasan terkait masalah Bahasa dan lian-lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ibn Qutaibah, al-Syi’r Wa al-Syu’ara’, Dar al-Ma’arif, Cairo.

Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, Tafsir Al-Qurthubi, Dar al-hadis, 2010 Kaherah.

Muhammad Husain al-Zahabi, Al-Tafsir Wa Al-Mufassirun, Dar al-hadis, 2012 Kaherah.

Khairuddin al-Zirikliy, al-‘Alam, Dar al-‘Ilm Lil Malayyin.

 

 

[1] Khairuddin al-Zirikliy, al-‘Alam, hlm. 322, jld. 5, Dar al-‘Ilm Lil Malayyin., Muhammad Husain al-Zahabi, al-tafsir wa al-mufassirun, jld. 2, hlm. 401, Dar al-hadis, 2012 Kaherah., Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, kata pengantar tafsir al-qurthubi, jld. 1, hlm. 6, Dar al-hadis, 2010 Kaherah.

[2] Muaqddimah tafsir al-qurthubi, ibid., al-tafsir wa al-mufassirun, ibid.

[3] Muhammad Husain al-Zahabi, al-tafsir wa al-mufassirun, jld. 2, hlm. 401, Dar al-hadis, 2012 Kaherah.

[4] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, kata pengantar tafsir al-qurthubi, jld. 1, hlm. 6, Dar al-hadis, 2010 Kaherah.

[5] Nama beliau adalah Ibrahim bin ‘Ali bin Muhammad, seorang ulama yang hidup pada kurun ke lapan hijrah dan terkenal dalam bidang keilmuan fikih, sejarah dan lain-lain. Beliau merupakan penganut mazhab Maliki dan terkenal sebagai pakar rujuk mazhab tersebut. Seorang ulama yang berkuturanan Maghribi namun lahir dan menetap di Madinah. Wafat pada tahun 799 hijrah di Madinah. [Khairuddin al-Zirikliy, al-‘Alam, hlm. 52, jld. 1, Dar al-‘Ilm Lil Malayyin.]

[6] Ibid, hlm. 322, jld. 5.

[7] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, kata pengantar tafsir al-qurthubi, jld. 1, hlm. 6, Dar al-hadis, 2010 Kaherah.

[8] Nama lengkap beliau adalah ‘Antarah bin ‘Amru bin Syaddad, merupakan seorang penyair terkenal yang hidup pada zaman jahiliyah, yaitu zaman sebelum di utusnya nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Puisi beliau sangat di kagumi keindahannya oleh bangsa arab pada ketika itu, sehinggakan puisi beliau termasuk diantara puisi-puisi yang digantung di dinding ka’bah sebagai tanda keagungan puisi ciptannya. Beliau lahir pada tahun 525 masehi dan wafat pada tahun 608 masehi. [Ibn Qutaibah, al-Syi’r Wa al-Syu’ara’, hlm. 205, vol. 1, Dar al-Ma’arif, Cairo.]

[9] Nama beliau ialah Nu’man bin Tsabit, seorang ulama yang faqih, menguasi ilmu usul dan hadith. Beliau merupakan imam besar mazhab Hambali, wafat pada tahun 150 hijriah.

[10] Nama beliau ialah Muhammad bin Idris al-Syafi’I, lahir di Gaza pada tahun 150 hijriah dan wafat pada tahun 205 hijriah di Mesir. Beliau seorang ulama yang menguasai bidang usul fikih sehingga mampu untuk menyusun struktur ilmu usul fikih yang sampai sekarang masih digunakan oleh para ulama. Beliau juga merupakan pendiri mazhab syafi’i.