Motivasi Penghafal Al-Quran

Download Artikel Klik disini

MOTIVASI DAN MUHASABAH PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN

Oleh : Muhammad Iqbal[1]

 

MUQADDIMAH

Allah SWT berfirman ;

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

Artinya : “kemudian kami jadikan al-Qur’an itu diwarisi oleh orang-orang yang Kami pilih dari kalangan hamba-hamba Kami; maka di antara mereka ada yang berlaku zalim kepada dirinya sendiri (dengan tidak mengindahkan ajaran al-Qur’an), dan di antaranya ada yang bersikap sederhana, dan di antaranya pula ada yang mendahului (orang lain) dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah ‘Azza Wajalla. Yang demikian itu ialah limpah kurnia yang besar (dari Allah ‘Azza Wajalla semata-mata).[2]

Menghafal al-Qur’an merupakan suatu perbuatan yang terpuji dan mulia yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang dipilih oleh Allah ‘Azza Wajalla, karena al-Qur’an bukanlah perkataan makhluk atau manusia, namu ianya merupakan kalam Rabbul ‘izzati, pemilik dan penguasa  alam semesta. Susunan ayatnya memiliki keindahan yang melebihi keindahan puisi dan syair yang pernah diciptakan oleh manusia.

                Bahkan para penghafal al-Qur’an dimuliakan derajatnya disisi Allah ‘Azza Wajalla dengan digolongkan sebagai ahlullah, yaitu wali Allah ‘Azza Wajalla yang terpilih dari kalangan hamba-Nya. Seperti sabda Nabi Sallallahu ‘Alahi Wasallam;

إن لله أهلينَ من الناس، قيل: من هم يا رسول الله؟ قال: أهل القرآن هم أهل الله وخاصته

Artinya : Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla memiliki wali dari kalangan manusia. Para sahabat Ridhwanullahu ‘Alaihim bertanya, siapa mereka wahai Rasulullah? Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab : mereka itu adalah para penghafal al-Qur’an, mereka adalah wali Allah ‘Azza Wajalla dan orang yang terdekat dengan-Nya.[3]

Maka, membaca al-Qur’an merupakan suatu ibadah terlebih lagi jika kita menghafalkannya, merupakan suatu kemuliaan dan memiliki ganjaran serta pahal yang berlipat ganda dari Allah ‘Azza Wajalla. Dalam suatu hadith yang diriwayatkan oleh imam al Tirmiz rahimahullah dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya : Barang siapa yang membaca satu huruf dari al Quran maka baginya kebaikan, dan timbangan kebaikan itu ialah perbandingan sepuluh. Aku tidak mengatakan الم itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.[4]

Dalam ayat yang lain Allah ‘Azza Wajalla mengumpamakan orang yang membaca al Quran ialah seperti orang yang melakukan perdagangan namun tidak pernah merasakan rugi. Firman-Nya;

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ

Artinya : Sesungguhnya orang yang membaca Kitabullah, mendirikan solat dan menginfaqkan sebagian dari harta yang telah Kami berikan kepada mereka secara sembunyi mahupun secara terang-terangan, mereka seumapa orang yang mengharapkan suatu perniagaan yang tidak pernah rugi.[5]

Namun dalam memotivasi menghafal al Quran, para ulama terdahulu memiliki beberapa motivasi yang kuat untuk menghafal al Quran, selain dari motivasi kelebihan menghafal al-Qur’an yang disampaikan oleh Allah ‘Azza Wajalla dan baginda nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bahkan mereka telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an pada usia dini, sebelum mereka memulai perjalanan hidup mereka sebagai ahli ilmu.

Semisal imam an-Nawawi[6], imam al-Syafi’I[7] pendiri mazhab mayoritas umat islam di dunia, Sa’id al-Musayyib[8], Sufyan bin ‘Uyaynah[9], Wahb al-Munabbih[10], Khatib al-Baghdadi[11] yang kesemua mereka merupakan ahli hadith dan fiqh dan ulama’ lainnya Rahimahumullah, mereka antara ulama’ yang memulai perjalanan ilmu mereka dengan menghafal al-Qur’an. Kata al-Baghdadi; harus bagi setiap penuntut ilmu supaya menghafal al-Qur’an sebelum dia mempelajari ilmu-ilmu yang lain, karena al-Qur’an itu merupakan tingkatan ilmu yang paling tinggi berbanding ilmu-ilmu lainnya.[12]

Imam al-Nawawi Rahimahullah pula menyebutkan; ilmu yang terpenting yang harus dipelajari oleh setiap penuntut ilmu adalah menghafal al-Qur’an. Bahkan para ulama terdahulu, mereka tidak akan mempelajari hadith dan fikih kecuali setelah mereka selesai menghafal al-Qur’an.[13]

Persiapan sebelum menghafal

                Sebelum seseorang itu memulai menghafal al-Qur’an, ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya al-Qur’an yang dihafal menjadi berkah untuk dirinya, mudah untuk di hafal dan terpelihara didalam ingatan. Seperti yang di sampaikan oleh Dr. Aiman Rusydi Swaid dalam bukunya Tajwid al-Musawwar[14] terkait  dengan persiapan yang harus dipersiapkan oleh calon hamlatu al-Qur’an;

  1. ikhlaskan niat menghafal al-Qur’an karena ingin meraih ridha Allah SWT

                Dalam satu hadith yang masyhur, yang diriwayatkan oleh lebih dari 200 orang ahli hadith[15], dari sahabat Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya : Setiap amlan itu tergantng dengan niatnya dan setiap orang akan diberikan pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan.[16]

Imam al Nawawi dalam uraian hadith ini menyebutkan bahwa setiap amal perbuatan akan diganjari sesuai dengan apa yang ia niatkan dan seorang hamba tidak akan diberikan pahala sekiranya dia tidak berniat ketika ingin melakukan suatu amal.[17] Maka berdasarkan dari hadith ini, seyogyanya bagi setiap muslim yang inign memulai menghafal al-Qur’an, dia memulainya dengan menata  niat atau tujuannya menghafal al-Qur’an, yaitu ikhlas semata-mata ingin mengharapkan redha dari Allah ‘Azza Wajalla. Seperti firman Allah ‘Azza Wajalla dalam surah al Bayyinah;

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah ‘Azza Wajalla dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) perintah agama, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.[18]

Namun apa yang dimaksudkan dengan ikhlas? Imam al Nawawi dalam karya beliau yang berjudul al-Tibyan fi Ãdabi Hamlati al-Qur’an menyebutkan beberapa pandangan ulama terkait dengan pengertian ikhlas. Abi Qasim al-Qusyairy[19] Rahimahullah berkata : ikhlas itu ialah menunggalkan maksud tujuan beribadah hanya unutk Allah ‘Azza Wajalla. Yaitu mengerjakan suatu ibadah dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla jalaluh dan bukan karena yang lainnya seperti ingin menunjuk-nunjuk atau ‘pamer’, atau karena ingin dipandang mulia oleh manusia, atau mengarapkan limpahan pujian dan sanjungan, atau hal-hal yang lain selain mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza Wajalla.

Tsauban bin Ibrahim atau yang lebih di kenali dengan nama Zunnun, seorang ulama pada kurun ke tiga hijriah[20], telah menyebutkan tiga ciri-ciri ikhlas yaitu; 1. Tidak mempedulikan pujian atau hinaan yang diterimanya, 2. Tidak mengungkit atau mengingati amal kebaikan yang pernah ia lakukan, dan 3. Hanya mengharapkan pembalasan di Akhirat atas semua kebaikannya.

Maka, inti dari pengertian ikhlas itu ialah setiap segala perbuatan yang kita lakukan baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, semunya dilakukan hanya karena Allah ‘Azza Wajalla dan tidak di nodai oleh apapun; seperti memenuhi kepentingan diri, hawa nafsu atau duniawi.[21]

  1. Memiliki tujuan yang untuk mendapatkan redha Allah ‘Azza Wajalla dan bukan balasan duniawi.

Imam al-Nawawi Rahumahullah memberikan pesanan kepada para Hamlatul Qur’an, katanya[22] : seharusnya para penghafal al-Qur’an tidak mengharapkan ganjaran dunia dari al-Qur’an; harta, ‘ketenaran’ atau kedudukan, penghormatan dan sanjungan, pujian dari manusia, menjadi idola setiap orang dan lainnya. Para pembaca al-Qur’an juga tidak boleh mengharapkan pemberian upah, hadiah atau pelayanan istimewa karena dia telah membaca al-Qur’an. Allah ‘Azza Wajalla berfirman;

وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Artinya : barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Dalam ayat yang lain Allah ‘Azza Wajalla berfirman;

مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ

Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang menginginkannya.

Dalam satu hadith yang disampaikan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anh, Rasulullah ﷺ bersabda;

من تعلم علما مما يبتغي به وجه الله تعالى, لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من أعراض الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

Artinya : Barang siapa yang menuntut ilmu, namun dia meniatkan menuntut ilmu itu untuk mendapatkan ganjaran dan habuan dunia, maka kelak pada hari kiamat dia tidak akan mencium bau wangian syurga.[23]

Alangkah ruginya, menghafal al-Qur’an yang seharusnya mampu memberikan peluang kepada kita untuk menggapai redha Allah ‘Azza Wajalla, namun akhirnya usaha dan penat lelah kita terbuang sia-sia hanya karena niat yang bercampur baur antara keinginan mencari redha dan ganjaran duniawi bahkan perbuatannya tersebut malah mengundang petaka pada hari kiamat kelak.

  1. Memilih waktu yang sesuai untuk menghafal

                Menghafal memerlukan fokus yang maksimal supaya apa yang dihafal dapat diingat dalam tempoh waktu yang lama. Adapun terkait dengan waktu yang cocok digunakan untuk menghafal, secara umumnya tidak ada waktu-waktu tertentu untuk menghafal al-Qur’an, namun para ulama memiliki beberapa waktu yang ideal menurut mereka untuk mengafal al-Qur’an antara lain : 1. Sebelum subuh, 2. Setelah asar, 3. Setelah maghrib.

  1. Menjauhi segala bentuk maksiat dan menanamkan perasaan takut kepada Allah SWT

Allah SWT berfirman;

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

Artinya : Sesungguhnya orang yang memilik perasaan takut kepada Allah ‘Azza Wajalla itu ialah para ulama’ (orang-orang yang diberikan ilmu).[24]

Sifat takut kepada Allah ‘Azza Wajalla merupakan salah satu dari ciri kuatnya keyakinan seseorang kepada janji-janji yang telah Allah ‘Azza Wajalla sampaikan di dalam al-Qur’an melalui lisan Rasululllah ﷺ seperti janji adanya hari pembalasan atas perbuatan yang telah dilakukan, adanya syurga dan neraka sebagai ‘imbalan’ dari setiap perbuatannya dan hal-hal ghaib lainnya. Dari sifat takut inilah maka lahirlah perasaan ingin menjauhkan maksiat sejauh yang ia mampu, karena takut ditimpa oleh kemurkaan dari Allah ‘Azza Wajalla.

                Sifat takut kepada Allah ‘Azza Wajalla juga merupakan salah satu bentuk implementasi dari ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba, terlebih lagi ilmu tersebut ialah ilmu al-Qur’an. Kata Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah; dasar sebuah ilmu itu ialah perasaan takut kepada Allah ‘Azza Wajalla. Bahkan para salaf dahulu mengatakan, untuk melihat seseorang itu berilmu atau tidak, maka lihatlah apakah dia memiliki perasaan takut kepada Allah ‘Azza Wajalla atau tidak. Dan ketika dia lalai dari perasaan takut kepada Allah ‘Azza Wajalla, maka itu merupakan tanda kejahilannya.[25]

                Dasar kepercayaan bahwa orang yang berilmu itu ialah orang yang paling takut dengan Allah ‘Azza Wajalla dijelaskan oleh syeikh Muhammad bin Soleh al-‘Uthaimin Rahimahullah dalam karya beliau, Syarah Hilyati Thalibi al-‘Ilmi, menyebutkan bahwa ketakutan itu berasal dari sikap kenalnya seseorang itu tehadap Allah ‘Azza Wajalla. ketika seseorang itu kenal dengan Allah ‘Azza Wajalla, dan mengetahui segala sifat dan kekuasaan yang dimiliki olehNya, maka perasaan takut itu akan hadir dengan sendirinya.[26]

                Kewajiban menjauhi maksiat bagi seorang penuntut ilmu ialah, telebih bagi mereka yang ingin menghafal al-Qur’an, dikarenakan sifat ilmu itu yang merupakan cahaya dari Allah ‘Azza Wajalla kepada hamba-Nya, dan cahaya-Nya tidak akan mampu menerangi hati-hati yang dipenuhi dengan kamsiat. Seperti kata Waqi’[27] kepada imam al-Syafi’I Rahimahumallah yang disusun dalam bait syair;

شَكَوْتُ إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي  *  فَأرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ المعَاصي

وَأخْبَرَنِي بأَنَّ العِلْمَ نُورٌ  *  ونورُ الله لا يهدى لعاصي

Artinya : Aku (imam al-Syafi’i) mengadu kepada guruku Waqi’ tentang buruknya hafalan ku, dan beliau mengajariku supaya menjauhi maksiat. Karena sesungguhnya ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah ‘Azza Wajalla tidak akan menuntun para pelaku maksiat.

Pesanan yang sama juga telah disampaikan oleh guru imam al-Syafi’I, yaitu imam Malik bin Anas[28] Rahimahullah kepada imam al-Syafi’I sebelum beliau menuntut ilmu; sesungguhnya Allah SWT telah menghidupkan cahaya di dalam hatimu, maka janganlah engkau memadamnya dengan maksiat.[29]

Tanggung jawab setelah menghafal

                Setelah seseorang itu berhasil menyelesaikan hafalan al-Qur’annya atau berhasil menghafal beberapa ayat dari al-Qur’an, maka bukan berarti dia telah terlepas dari tanggung jawab dan kewajiban, bahkan kewajiban dan tanggung jawab yang paling terberat bagi seorang Hamalatu al-Qur’an dimulai setelah dia selesai menghafalkan 30 juz al-Qur’an atau beberapa juz atau halaman dari al-Qur’an.

                Antara peran dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh orang-orang yang telah menyelesaikan hafalannya, antara lain adalah :

  1. Mengamalkan isi al Quran

Mengamalkan isi al-Qur’an merupakan maksud dan tujuan dari penurunan al-Qur’an, karena tujuan al-Qur’an ialah supaya menjadi petunjuk, syifa’, dan penyelesaian bagi setiap permasalahan makhluk. Firman Allah ‘Azza Wajalla;

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌۭ وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya : Dan Kami turunkan dari al-Qur’an sesuatu sebagai penawar dan memberikan rahmat kepada orang-orang mukminin.[30]

Ibn Katsir menyebutkan, al-Qur’an merupakan penawar bagi hati manusia yang berpenyakit seperti perasaan ragu-ragu terhadap kebenaran, penyakit nifaq atau pura-pura, syirik serta penyimpangan dan kecenderungan terhadap keburukan. Selain itu juga, rahmat dari al-Qur’an membuahkan keimanan, hikmah dan kebaikan bagi pembacanya.[31]

                Dalam ayat yang lain Allah ‘Azza Wajalla berfirman;

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ

Artinya : Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi pentunjuk kepada jalan yang lebih lurus.[32]

Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, merupakan ciri-ciri dari ilmu yang bermanfaat. Bahkan seseorang itu tidak dianggap berilmu kecuali setelah dia mengamalkan apa yang telah di pelajari atau yang telah dihafalnya, terlebih lagi jika ilmu yang telah dipelajari atau di hafalnya itu adalah al-Qur’an. Ali bin Abi Talib Radhiallahu ‘Anh berkata; Wahai orang yang memiliki ilmu, praktekkanlah ilmu yang telah kamu pelajari karena sesungguhnya seseorang itu di anggap berilmu ketika dia mengamalkan ilmunya, dan setiap perbuatannya merupakan cerminan dari ilmu yang dimilikinya.[33]

Namun dalam melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza Wajalla di dalam al-Qur’an, tidak semua hamba-Nya melaksanakan keseluruhan hukum dan pengajaran yang ada di dalamnya. Seperti yang telah di singgung oleh Allah ‘Azza Wajalla dalam ayat berikut ini; 

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ

­­Artinya : “kemudian kami jadikan al-Qur’an itu diwarisi oleh orang-orang yang Kami pilih dari kalangan hamba-hamba Kami; maka di antara mereka ada yang berlaku zalim kepada dirinya sendiri (dengan tidak mengindahkan ajaran al-Qur’an), dan di antaranya ada yang bersikap sederhana, dan di antaranya pula ada yang mendahului (orang lain) dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah ‘Azza Wajalla.[34]

Fakhr al-Din al-Razi dalam tafsirnya menyebutkan penjelasan terhadap inti dari ayat tersebut, katanya para ulama mufassirin sepakat mengatakan bahwa golongan terpilih yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah orang-orang mukmin dari ummat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun ada diantara mereka yang bersikap zalim terhadap diri mereka, yaitu orang yang diberikan al-Qur’an namun dia tidak mengamalkan isinya, dan adapula diantara mereka yang bersikap pertengahan, yaitu mereka yang mengamalkan isi dan pengajaran dari al-Qur’an, dan golongan terakhir adalah mereka yang  menghafal al-Qur’an kemudian mengamalkannya dan mengajarkan apa yang mereka ketahui kepada orang lain serta mengajak mereka supaya beramal dengannya.[35]

                Orang yang mengahafal al-Qur’an kemudian mengamalkan isinya, secara khusus disebutkan ganjaran yang akan diterima oleh mereka pada hari kiamat kelak. Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Mu’az bin Anas;

من قرأ القرآن وعمل بما فيه ألبس والداه تاجا يوم القيامة ضوؤه أحسن من ضوء الشمس في بيوت الدنيا لو كانت فيكم ، فما ظنكم بالذي عمل بهذا ؟

Artinya : barang siapa yang membaca al-Qur’an kemudian mengamalkan isinya, kelak pada hari kiamat nanti dia akan memakaikan kedua orang tuanya singasana yang kilauannya lebih terang dari matahari di dunia. Maka menurut kamu, bagaimana pula dengan balasan yang akan diterima oleh orang yang mengamalkannya?[36]

Dalam hadith yang lain Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan;

يقال لقارئ القرآن اقرأ وارتق ورتل كما كنت ترتل في الدنيا، فإن منزلتك عند آخر آية تقرؤها

Artinya : kelak di hari kiamat akan dikatakan kepada para penghafal al-Qur’an; bacalah! Dan naiklah! Bacalah al-Qur’an seperti kamu membacanya ketika di dunia, karena kedudukanmu pada ayat terakhir yang kamu baca.[37]

  1. Berakhlak yang baik sesuai dengan tuntunan al Quran

                Berakhlak dengan akhlak al-Qur’an merupakan suatu tuntunan yang sangat dititik beratkan bagi setiap hamlatu al-Qur’an¸karena mereka merupakan ‘agen’ atau penyampai risal al-Qur’an kepada manusia. Dalam sebuah hadith yang di riwayatkan dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, ketika beliau ditanya tentang akhlak nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha menjawab;

كان خلقه القران

Artinya : Akhlak dan perilaku nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah al-Qur’an.[38]

Para mufassirin[39] ketika menafsirkan ayat 121 dari surah al-Baqarah[40] menyebutkan; mengamalkan isi al-Qur’an dengan sungguh-sungguh.[41]

Dalam hal ini, imam Muhammad bin al-Husain al-Ajary, menyusun beberapa adab yang harus dijaga oleh para hamlatu al-Qur’an, katanya; seorang hamlatu al-Qur’an harus memiliki sifat taqwa kepada Allah ‘Azza Wajalla dalam keadaan sendiri atau beramai-ramai, bersikap wara’ dalam pemakanan, pakaian dan tempat tinggal, menjaga lisannya dari mengucapkan kemungkaran dan dusta, memerhatikan setiap ucapan yang inign diucapkan; tidak mengucapkan sesuatu kecuali dia pelihat pentinganya ucapan yang inign diucapkan dan diam ketika ia melihat kebenaran dalam diamnya dan tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Para hamalatu al-Qur’an juga tidak boleh banyak tertawa seperti tertawanya manusia lainnya dikarenakan buruknya akibat dari tertawa, tidak banyak bercanda khawatir akan melalaikannya dan sekiranya ia bercanda maka dalam candaannya ia berkata benar, wajahnya selalu ceria, tuturannya baik dan tidak berkata kasar, tidak menyakiti, mencela dan merendah-rendahkan orang lain, tidak berperasangka buruk dan iri hati terhadap orang lain, bersikap lemah lembut terhadap orang miskin, tidak bersikap angkuh dan sombong.[42]

  1. Mentadabburi isi al-Qur’an

                Mentadabburi al-Qur’an merupakan tuntunan yang diperintahkan Allah ‘Azza Wajalla supaya manusia mengahayati setiap pesan, perintah dan larangan yang disampaikan-Nya di dalam al-Qur’an. Perintah supaya mentadabburi isi al-Qur’an ini disampaikan oleh Allah ‘Azza Wajalla dalam surah an-Nisa’ Allah ‘Azza Wajalla berfiman;

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًۭا كَثِيرًۭا

Artinya : Apakah mereka tidak mentadabburi al-Qur’an? Sekiranya al-Qur’an itu bukan datang dari Allah ‘Azza Wajalla, tentulah mereka akan menemukan pertentangan yang banyak didalamnya.[43]

Dalam surah yang lain pula Allah ‘Azza Wajalla berfirman;

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

Artinya : Apakah merak tidak mentadabburi al-Qur’an atau hati mereka telah terkunci?[44]

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan, yang dimaksudkan dengan tadabbur ialah memahami maksud dan inti dari suatu ayat, kemudian dari pemahaman tersebut kita akan mngetahui tentang janji yang telah Allah ‘Azza Wajalla persiapkan bagi mreka yang tidak beriman.[45]

                Imam al-Ajury menyebutkan, ayat diatas merupakan cara Allah ‘Azza Wajalla dalam memerintahkan hamba-Nya supaya mentadabburi isi al-Qur’an, karena dengan mentadabburinya kita akan lebih mengenal keesaan Allah ‘Azza Wajalla, mengetahui keagungan dan kekuasaannya, mengetahui kemuliaan yang Dia berikan kepada setiap mu’min, mengetahui kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh hamba-Nya sehingga mereka akan melakukan kewajiban tersebut dan menjauhi segala larangan yang dilarang oleh-Nya dan termotivasi untuk melaksanakan kebaikan yang dipertinahkan-Nya.

Adapun kelebihan dan keutamaan yang diperolehi oleh seorang hamba yang mentadabburi al-Qur’an ialah al-Qur’an menjadi syifa’ atau penawar baginya, kekayaan walaupun tidak memiliki harta, memuliakan walaupun tidak memiliki jabatan dan memberikan ketenangan walaupum ketika dibenci. Maka setiap orang yang membaca al-Qur’an itu, hal yang harus mereka fikirkan ialah : bila aku akan mengambil pengajaran dari apa yang aku baca? Dia tidak memikirkan kapan akan akan khatam membaca dan menghafalnya, akan tetapi yang difikirkannya adalah kapan aku memikirkan apa yang Allah ‘Azza Wajalla perkatakan! [46]

  1. Mempelajari ilmu membaca al-Qur’an dan cabang-cabang ilmu bacaan al-Qur’an

Salah satu ilmu yang harus dipelajari oleh setiap muslim ketika ingin membaca al-Qur’an ialah ilmu tajwid. Tujuan mempelajarinya ialah untuk kesempurnaan bacaan al-Qur’an, seperti yang disampaikan oleh imam al-Jazary dalam Manzumahnya;

والأخذ بالتجويد حتم لازم  *  من لم يجود القرآن آثم

لأنه به الإله أنزلَ  *  وهكذا منه إلينا وصلَ

Artinya : Membaca al-Qur’an dengan bertajwid itu  suatu kewajiban. Barang siapa yang membaca al-Qur’an tanpanya maka ia berdosa. Karena dengan bertajwidlah al-Qur’an itu diturunkan, dan seperti itu juga ia disampaikan kepada kami.

Selian itu juga, Qhadi ‘Iyadh[47] dan para ulama’ lain mengatakan, orang yang membaca al-Qur’an dengan tajwid yang sempurna lebih banyak mendapatkan pahala dari setiap ayat yang di baca ketimbang mereka yang membaca al-Qur’an dengan terbata-bata dan tidak bertajwid.[48] Hal ini disandari oleh hadith dari ummul mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam;

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يقرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُو عليهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْران

Artinya : Orang yang membaca al-Qur’an dengan mahir, kelak dia akan dikumpulkan bersama dengan para malaikat yang mulia. Adapun orang yang membaca al-Qur’an dengan terbata-bata akan tetapi dia tetap berusaha untuk membacanya, maka baginya dua pahala.[49]

  1. Muraja’ah hafalan al-Qur’an yang telah di hafal

Muraja’ah hafalan selain merupakan kegiatan untuk menjaga hafalan supaya tidak hilang dan lupa, juga bertjuan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an. Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan lain-lain menjelaskan perbedaan tingkatan mukmin yang membaca al-Qur’an dan mukmin yang tidak membaca al-Qur’an;

مثَلُ المُؤمنِ الَّذِي يَقْرَأُ القرآنَ مثَلُ الأُتْرُجَّةِ: ريحُهَا طَيِّبٌ، وطَعْمُهَا طَيِّبٌ، ومثَلُ المُؤمنِ الَّذي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرةِ: لا رِيح لهَا، وطَعْمُهَا حُلْوٌ، ومثَلُ المُنَافِق الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الرّيحانَةِ: رِيحها طَيِّبٌ، وطَعْمُهَا مُرٌّ، ومَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لا يَقْرَأُ القرآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ: لَيْسَ لَها رِيحٌ، وَطَعْمُهَا مُرٌّ

Artinya : Perumpamaan  mukmin yang membaca al-Qur’an seperti utrujah, memiliki bau yang wangi dan rasanya yang enak. Perumpamaan mukmin yang tidak membaca al-Qur’an pula ialah seperti buah tamar, tidak memiliki bau namun memiliki rasa yang manis. Adapun perumpamaan orang munafiq yang membaca al-Qur’an pula ialah seperti  biji selasih, memiliki bau yang enak namun tidak memiliki rasa, dan perumpamaan munafiq yang tidak membaca al-Qur’an ialah seperti pare, tidak memiliki bau dan rasanya pahit.[50]

Kepentingan muraja’ah hafalan yang telah dihafal ialah supaya hafalan tidak lupa dan hilang. Bahkan Nabi Sallallhu ‘Alaihi Wasallam memperingatkan ummatnya bahwa al-Qur’an itu sangat mudah untuk lupa. Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibn Abi Syaibah, al-Baihaqi dan lain-lain[51];

تعاهدوا هذا القران فو الذي نفسي بيده لهو أشد تفلتا من الإبل في عقلها

Artinya : Ikat eratlah al-Qur’an ini, demi jiwaku yang berada digenggaman-Nya, sesungguhnya al-Qur’an ini lebih mudah terlepas (hilang) dari unta yang di ikat.

Dalam hadith yang lain, yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘Anhu, Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda[52];

إنما مثل صاحب القران كمثل صاحب الإبل المعلقة, إن عاهد عليها أمسكها, وإن أطلقها ذهبت

Artinya : Perumpamaan ahli al-Qur’an adalah seperti pemilik unta yang terikat. Sekiranya dia mengeratkan ikatannya, maka untanya tersebut akan berada ditempatnya dan jika dia membiarkannya maka unta tersebut akan pergi meninggalkannya.

Dalam hadith yang lain Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan peringatan dan ancaman bagi orang yang telah memiliki hafalan al-Qur’an namum melupakannya. Dalam hadith yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ad-Darimi, Ahmad, dan lain-lain;

من قرأ القران ثم نسيه لقي الله يوم القيامة أجذم

Artinya: Barang siapa yang menghafal al-Qur’an kemudian melupakannya, kelak dia akan bertemu dengan Allah ‘Azza Wajalla pada hari kiamat dalam keadaan kerdil.[53]

Dalam riwayat Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anh, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

عُرِضَتْ عَلَىَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى الْقَذَاةِ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنَ الْمَسْجِدِ وَعُرِضَتْ عَلَىَّ ذُنُوبُ أَمَّتِي فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا

Artinya : Dibentangkan kepadaku dosa-dosa umatku dan tidak aku lihat dosa yang lebih besar dari dosa seorang lelaki yang diberikan satu surah atau satu ayat dari al-Qur’an kemudian dia melupakannya.[54]

Dr. Zilkifli al-Bakri, Salah seorang mufti di Malaysia memberikan beberapa pandangan ulama terkait hukum orang yang melupakan hafalan al-Qur’annya, kata beliau[55]; Menurut Syeikh Zakariyya al-Ansari Rahimahullah, haram hukumnya melupakan hafalan al-Qur’an yang dimiliki berdasarkan hadith-hadith yang telah disebutkan di atas. Menurut Imam al-Ramli Rahimahullah pula, haram hukumnya jika kelupaan tersebut disebabkan oleh kelalalaian dan malas, dan itu merupakan salah satu dosa besar.

Imam Ibn Hajar Rahimahullah pula menyebutkan beberapa riwayat dari perkataan salaf, bahwa ada yang menganggapnya sebagai dosa besar seperti al-Dhahhak dan Abu al-‘Aliyah, dan ianya juga disepakati oleh para ulama mazhab as-Syafi’ie seperti Imam Khatib Syarbini, Imam Ibn Hajar al-Haitami, al-Ruyani dan al-Qurthubi. Di samping ada sebagian dari mereka yang mengatakan makruh seperti Ibn Sirin.

Selain itu, ada pendapat lain dari Ibn Rusyd yang menyebutkan, kesepakatan ulama’ mengatakan bahwa jika seseorang itu terlupa hafalan al-Qur’annya dikeranakan sibuk mempelajari ilmu-ilmu yang wajib dan ilmu-ilmu sunat, maka dia tidak berdosa. Adapun jika lupanya tersebut disebabkan sifat manusiawinya, maka ia tidaklah berdosa, kerana Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri pernah terlupa sebagian dari ayat al-Qur’an. Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha;

سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَقْرَأُ فِي سُورَةٍ بِاللَّيْلِ فَقَالَ ‏ "‏ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

Artinya : Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada satu malam mendengar seorang lelaki membaca satu surah dari al-Qur’an, kemudian bersabda: Semoga Allah ‘Azza Wajalla merahmatinya, dia telah mengingatkanku suatu ayat dari satu surah al-Qur’an yang ake telah lupa.[56]

Dalam usaha untuk memuroja’ah hafal yang telah dimiliki, Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan tips untuk menjaga hafalan al-Qur’an yang dimiliki, sabda Beliau;

وَإِذَا قَامَ صَاحِبُ الْقُرْآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ذَكَرَهُ وَإِذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ نَسِيَهُ

Artinya: Apabila seorang sohibul Qur’an membaca dari hafalannya (ketika solat) pada waktu malam dan siang hari, nescaya dia akan hafal dan ingat ayat yang telah dihafalnya tersebut, namun jika dia tidak melakukan yang demikia, maka dia akan lupa.[57]

Hal yang senada disampaikan oleh Syeikh Amin al-Syanqiti ketika menafsirkan surah al-Muzzammil ayat keenam[58]. Beliau menyebutkan pesanan gurunya yang mengatakan; hafalan al-Qur’an seseorang itu tidak akan menempel di dadanya, dan tidak akan mudah untuk dihafal dan fahami kecuali setelah dia membacanya dalam solat malam yang ia kerjakan.[59]

Wallahu ‘Alamu Bissoab

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an al-Karim

Yahya bin Syaraf, al-Nawawi, al-Tibyan Fi Adabi Hamlah al-Qur’an,

Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’,

Ismail bin Katsir, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Karim,

Muhammad bin Jarir, al-Thabary, Tafsir al-Thabary,

Muhammad bin Ahmad, al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an,

Muhammad al-Razi, Fakhr al-Din, Mafatih al-Ghaib,

Khairuddin, al-Zirikliy, al-A’lam Qamus Tarajim,

Aiman Rusydi Swaid, Tajwid al-Musawwar,

Muhammad bin al-Husain, al-Ajari, Akhlak Ahl al-Qur’an,

Yahya bin Syarf, imam al-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhazab,

Muhammad bin Soleh al-‘Uthaimin, Syarah Hilyati Thalibi al-‘Ilmi,

Ahmad bin Hanbal, Jami’ al ‘Ulum Wa al-Hikam,

Ahmad bin ‘Ali, Khatib al-Baghdadi, al-Jami’ Li Akhlak al-Rawi,

Yahya bin Syarf, imam al-Nawawi, Syarah Sahih Muslim,

Muhammad al-Amin bin Mukhtar, al-Syanqitiy, Adhwa’u al-Bayan, Fi Idah al-Qur’an Bi al-Qur’an,

Dr. Zulkifli bin Muhammad al-Bakri, http://www.muftiwp.gov.my/

https://www.alukah.net/

https://binbaz.org.sa/

https://www.almaany.com/

 

[1] Ditulis sebagai pengisian materi di acara haflah Program Tahfizh Insentif, Tahsin, Talaqqi dan Tahfizh, asrama Haji, Rajabasa 25 Desember 2018.

[2] Q.S Surah Fatir: 32

[3] H.R. Abu Daud, no. 2124., Ibn Majah, no. 215., al-Nasa’ie dalam al-Kabir, no. 8031 dan lain-lain.

[4] Muhammad bin Isa, al Tirmizi, al Jami’ al Kabir, no. 2910.

[5] Q.S Fatir: 29

[6] Nama beliau Yahya bin Syarf bin Muriy al-Nawawi. Seorang ulama dalam bidang hadith, fikih, rijal al-Hadith dari Syam. Beliau antara ulama besar dalam mazhab Syafi’I yang menjadi panutan ulama-ulama moderen. Beliau memiliki karya dari berbagai bidang keilmuan islam. Beliau banyak menghabiskan umurnya dalam mempelajari ilmu dan mengajarkannya sehingga beliau tidak jatuh sakit dan wafat pada usia muda. Wafat pada tahun 676 Hijriah. [Khairuddin, al-Zirikliy, al-A’lam Qamus Tarajim, jld. 8., hlm. 149.]

[7] Nama beliau Muhamamd bin Idris bin Abbas al-Syafi’i. seorang pendiri mazhab mayoritas muslim di dunia yaitu mazhab Syafi’i. Seorang ulama kelahiran Ghazzah, Palestina pada tahun 150 Hijriah merupakan seorang ulama yang mahir dalam ilmu hadith, fikih, tafsir dan bahasa arab. Beliau seorang yang sangat rakus dengan ilmu, sanggup berjalan ke beberapa daerah yang jauh untuk memperdalam ilmu yang telah beliau miliki. Salah seorang guru beliau yang paling lama beliau tekuni adalam imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki. Wafat pada tahun 204 Hijriah di Mesir. [Khairuddin, al-Zirikliy, al-A’lam Qamus Tarajim, jld. 6., hlm. 26.]

[8] Nama beliau Sa’id bin al-Musayyib, seorang tabi’in dari kalangan ulama Madinah. Beliau merupakan rujukan para ulama hadith dalam ilmu al-Jarh wa al-ta’dil. Kebanyakan ilmu dan kefahaman dalam agam islam diriwayatkan oleh beliau. Wafat pada tahun 94 Hijriah. [Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’,  jld. 4., hal. 218-246.]

[9] Nama beliau Sufyan bin ‘Uyaynah bin Abi ‘Imran. Beliau merupakan ulama dalam bidang hadith dan menjadi rujukan dalam al-Jarh wa al-ta’dil. Beliau memiliki banyak guru dari kalangan kibar at-tabi’in, sehingga keilmuan beliau diperakui oleh para ulama hingga ke hari ini. Wafat pada tahun 196 Hijriah. [Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’,  jld. 18., hal. 455-475.]

[10] Nama beliau Wahb bin Munabbih bin Kamil, salah seorang tabi’in dari Yaman dan ulama dalam bidang hadith dan fikih. Beliau lahir bada zaman kekhalifahan ‘Uthman bin ‘Affan, seorang ulama yang melakukan banyak perjalanan untuk mencari ilmu. Kehebatan beliau sama seperti Sufyan bin ‘Uyaynah, Sa’id al-Musayyib dan ulama lain dalam bidang hadith dan ilmu al-jarh wa al-ta’dil. Wafat pada tahun 110 Hijriah. [Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’,  jld. 4., hal. 545-557.]

[11] Nama beliau Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit, seorang hakim diwilayah Baghdad, Iraq. Beliau seorang yang ‘alim dalam bidang hadith, fikih, sejarah dan keilmuan islam lainnya. Beliau memulai karir sebagai penuntut ilmu seawal usia 11 tahun dan mulai melakukan perjalanan jauh ke beberapa daerah untuk mencari ilmu. Wafat pada tahun 463 Hijriah dengan meninggalkan ratusan hasil karya yang bermanfaat hingga hari ini. [Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’,  jld. 18., hal. 270-297.]

[12] Ahmad bin ‘Ali, Khatib al-Baghdadi, al-Jami’ Li Akhlak al-Rawi, hlm. 79.

[13] Yahya bin Syarf, al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, jld. 1., hlm. 60.

[14] Aiman Rusydi Swaid, Tajwid al-Musawwar, jld. 2., hal. 572.

[15] Yahya bin Syarf, Imam al Nawawi, syarah sahih Muslim, jld. 13, hal. 80.

[16] H.R al Bukhari, no. 1., Muslim, no. 1907., Abu Daud, no. 2210., al Tirmizi, no. 1742., al Nasa’ie, 1/58 dan lain-lain.

[17] Imam al-Nawawi, Syarah sahih Muslim, ibid.

[18] Q.S al Bayyinah: 5

[19] Nama beliau Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Talhah al-Qusyairy. Seorang ahli tasawwuf dan tafsir yang berasal dari daerah Khurasan, Naisaburi. Wafat pada 26 Rabi’ul Awwal 456 Hijrah. [Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’,  jld. 18., hal. 227.]

[20] Nama beliau Tsuban bin Ibrahim merupakan seorang ulama tasaawuf di Mesir yang telah melahirkan beberapa orang ulama terkenal pada zamannya seperti Ahmad al-Fayyumi, Rabiah bin Muhammad al-Thaiy dan lain-lain. Pernah mengambil ilmu dari sahabat seperti Anas bin Malik RA., dan beberapa tabi’in seperti al-Laith, Fudhail bin ‘Iyadh, Sufyan al-‘Uyaynah dan lain-lain. Wafat pada tahun 246 Hijriah. [Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’,  jld. 11., hal. 533.]

[21] Pengertian ini disampaikan oleh Syeikh Sahl bin ‘Abdullah al-Tastary, seorang ulama tasawwuf yang zuhud dari Mesir. Wafat pada tahun 238 Hijriah. [Muhammad bin Ahmad, al-Zahabi, Siyaru A’lam al-Nubala’, jld. 13., hlm. 331.]

[22] Yahya bin Syarf, imam al-Nawawi, al-Tibyan Fi Adabi Hamlati al-Qur’an, hlm. 45.

[23] H.R Abu Daud, no. 3664., Ibn Majah, no. 252., Ahmad, no. 338/2., dan lain-lain.

[24] Surah Fathir : 28.

[25]<